| TANPA KENDALI, PERSAINGAN BISA MEMBUAT BISNIS KANIBALISME |
|
|
| Ditulis oleh Moch S. Hendrowijono |
| Kamis, 17 April 2003 12:59 |
|
KOMPAS, 17-04-2003. Halaman: 49 KOMPETISI bagaimanapun akan membawa dampak positif bagi masyarakat pengguna jasa atau produk karena mereka bisa memilih dan mendapat produk yang paling cocok. Dalam kompetisi para pemberi jasa akan bersaing memberikan produk dan layanan mereka yang terbaik karena hanya yang terbaik yang bisa memimpin pasar. LAIN dengan monopoli atau duopoli. Dalam monopoli masyarakat tidak punya pilihan, kecuali memanfaatkan jasa dari satu-satunya penyedia. Soal mutu relatif karena tak ada pembandingnya dan pemberi jasa berada pada posisi menentukan, sementara masyarakat hanya punya dua pilihan, ambil atau tinggalkan (take it or leave it). Hal sama juga mirip meski tidak lagi monopoli, tetapi duopoli di mana satu jasa diberikan hanya oleh dua pemberi jasa yang pada akhirnya terjadi trading di antara mereka. Pemberi jasa pertama lebih fokus untuk satu jenis jasa, sementara perusahaan yang lain satu jenis lain lagi sehingga tetap saja masing-masing menjadi penguasa di jenis jasanya itu. Masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan jasa yang diberikan secara monopoli, terutama jasa atau produk yang dianggap menguasai hajat hidup orang banyak. Misalnya, jasa angkutan kereta api, angkutan penumpang laut, telekomunikasi, dan minyak bumi. Agak berbeda masalahnya di angkutan penumpang laut yang merupakan monopoli terselubung. Dalam masalah ini pemerintah menguasainya dengan membentuk satu perusahaan dan memberinya sarana berupa kapal-kapal laut, lalu menetapkan tarif yang murah yang tidak mungkin diterapkan pada angkutan laut swasta dengan modal sendiri. Ketika penerbangan hanya dilayani oleh Garuda lalu Merpati dengan berbagi rute, pelayanan mereka lumayan buruk, tarif tinggi. Kemudian muncul perusahaan swasta yang boleh mempunyai pesawat jet, masyarakat mulai ada pilihan. Ketika kemudian pemerintah membuka keran, siapa saja yang berminat boleh menjalankan usaha angkutan udara, masyarakat mulai diuntungkan. Kini tarif angkutan udara tak bisa ditandingi oleh jenis angkutan lainnya, baik darat maupun laut. Kereta api nyaris kolaps akibat perang tarif yang sebenarnya terjadi di antara perusahaan angkutan udara. Demikian pula PT Pelni yang seperti PT Kereta Api (KA) tidak bisa bertahan pada tarif yang mereka tetapkan sehingga mau tidak mau harus memberi diskon besar-besaran. Pada akhirnya, jika PT KA maupun PT Pelni ingin tetap hidup, mereka harus melakukan efisiensi, menekan pengeluaran sekuat mungkin dan dengan risiko hanya mendapat keuntungan sedikit. Untuk jalur tertentu, PT KA tidak kena imbas perang tarif pada trayek penerbangan yang hanya dilayani satu-dua perusahaan, misalnya, Jakarta-Bandung, Jakarta-Semarang, Bandung-Surabaya. Di angkutan laut, selain PT Pelni, yang megap-megap juga pelayaran rakyat, kecuali yang khusus angkutan barang atau campuran. Selain itu, layanan angkutan laut dan penyeberangan seperti PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) juga kena dampaknya. Di angkutan darat, kini ratusan bus kelas eksekutif atau super eksekutif jarak jauh lebih banyak parkir di garasi yang membuat perusahaannya mati suri. Ratusan bus eksekutif dari Palembang, Jambi, Padang, bahkan Medan dikandangkan karena tidak mungkin lagi bersaing dengan pesawat udara. Jakarta-Jambi, dengan pesawat cuma Rp 275.000 (Bali Air), sementara tarif bus eksekutif Rp 200.000. Naik pesawat cuma 1 jam lima menit, naik bus bisa 30 jam. Kecuali jurusan ke Jateng dan Jatim, yang masih bisa dioperasikan hanya kelas ekonomi, sementara bus kelas eksekutif hanya diisi 5-6 penumpang. *** DENYUT persaingan yang mulai ketat sudah terasa di sektor telekomunikasi, walau masih sangat tergantung lokasi karena baru bisa dimanfaatkan oleh masyarakat perkotaan atau sekitarnya. Telekomunikasi yang selama seabad lebih dikuasai perusahaan telepon tetap, dulu namanya PTT (Post, Telefoon en Telegraaf) lalu diindonesiakan menjadi Pos, Telepon dan Telegrap pada zaman kemerdekaan, beralih nama berkali-kali akhirnya menjadi PT Telkom. Semula pun PT Indosat merupakan bagian PT Telkom yang khusus melayani sambungan internasional dan hingga kini masih banyak karyawan PMA itu yang tadinya pegawai PN Postel. Persaingan menjadi menarik, sebab tidak hanya terjadi antara perusahaan yang berbeda melainkan di dalam kelompok perusahaan itu sendiri, bahkan memakan jenis layanannya sendiri. Persaingan antaroperator seluler sudah terjadi sejak ada seluler dan makin seru ketika ketika GSM mulai operasi sehingga korban-korban mulai berjatuhan. Teknologi telekomunikasi yang berkembang cepat dan menawarkan layanan terbaik bagi masyarakat membuat persaingan makin tajam. Tetapi yang paling ditakuti adalah persaingan tidak sehat akibat lemahnya regulasi, terlebih jika ada keberpihakan regulator. Teknologi yang datang belakangan menawarkan biaya lebih rendah dan atraktif, padahal pada saat sama investasi untuk perangkat yang masih bagus digunakan belum impas. Di sisi lain masyarakat tak peduli pada masalah yang dihadapi operator, apalagi jika operator gagal merawat kesetiaan pelanggannya. Persaingan terjadi di tarif, area cakupan (coverage), dan layanan. Tarif menjadi utama pada lapisan menengah ke bawah, sementara coverage juga menjadi pertimbangan, sebab cakupan akan berkait dengan besaran pengeluaran pelanggan. Tentu relatif lebih murah berlangganan pada operator yang area cakupannya luas daripada yang sempit, sebab hal itu terkait dengan berapa biaya yang harus ia keluarkan untuk setiap pulsa. Orang memilih layanan satu operator yang punya zona point of charge (POC) Jakarta yang luasnya sampai Sukabumi, Purwakarta, dan Banten ketimbang pada operator yang ketika masuk Bogor saja sudah kena interlokal. Selain mulai memperluas zona lokal, misalnya, kini panggilan seluler Telkomsel dari Cirebon ke Bandung atau Banyuwangi ke Bojonegoro menjadi lokal, juga terjadi penurunan tarif. Telkomsel menurunkan tarif panggilan Simpati ke sesama Telkomsel lokal dari Rp 1.600 per menit pada jam sibuk menjadi Rp 1.500 per menit. Excelcomindo Pratama menurunkan tarif panggilan lokal ke jaringan telepon tetap (public switched telephone network/PSTN) seperti telepon rumah kita. Penurunan ini sebenarnya tidak berarti apa-apa dan tidak mempengaruhi pendapatan, kecuali hanya trik dan gimmick (muslihat). Masalahnya, panggilan ponsel ke telepon rumah kini sudah jauh lebih sedikit dibanding panggilan dari ponsel ke ponsel sehingga tarif diturunkan pun tidak terlalu membebani. Perang tarif akan makin kuat sebab akan ada pendatang baru yang cukup meresahkan para operator seluler, bahkan akan merepotkan operator PSTN sendiri nantinya. CDMA, satu primadona baru-sebenarnya seperti apa "binatangnya" kita belum paham benar-akan menjadi pesaing potensial seluler. CDMA punya kelebihan dibanding semua jenis layanan telekomunikasi bagi pelanggan yang ada saat ini. Dibandingkan PSTN ia jelas lebih unggul karena, meski disebut telepon tetap sebagaimana PSTN, CDMA bisa dibawa-bawa pada zona terbatas (limited mobililty). Orang bisa menggunakan CDMA seperti halnya ponsel dengan kartu Telkomsel, ProXL, atau Satelindo, tetapi dengan tarif lokal. Direktur PT Excelcomindo Pratama, Rudiantara, tidak terlalu risau dengan keberadaan CDMA saat ini karena penetrasinya untuk sementara belum bisa mengejar seluler. Tahun ini ia memperkirakan penambahan pelanggan seluler empat sampai lima juta sehingga jumlahnya menjadi 16 juta. "Kalau Telkom dan Indosat melepaskan satu juta nomor CDMA tahun ini, paling mengurangi pertumbuhan seluler sejuta. Seluler masih tumbuh dengan tiga hingga empat juta tahun ini," katanya. Seorang distributor ponsel GSM juga menanggapi kedatangan CDMA dengan dingin. "Dalam waktu dekat tidak akan berpengaruh, apalagi ponsel CDMA selain masih mahal juga bentuknya jelek," ujarnya. Tetapi ada operator yang menanggapinya dengan sangat serius, sebab ia tidak melihat hanya dalam setahun-dua tahun, melainkan jaminan bisnis seluler ke depan. Dirut PT Satelindo Johnny Swandi Sjam berharap pemerintah segera mengatur hal ini dengan lebih tegas dan jelas, sebab soal CDMA ini sangat dipengaruhi regulasi. "Harus ada aturan, seluas mana area mobilitas CDMA," katanya. Operator seluler tidak terlalu keberatan jika area mobilitas CDMA fixed wireless ini terbatas di BTS-nya, sebagaimana yang ditetapkan, misalnya, bagi Ratelindo. Tetapi kalau areanya luas seperti, misalnya, Surabaya merupakansatu area selain area Gresik dan area Sidoarjo untuk 031, ini sudah mengancam bisnis seluler. Apalagi, ada kabar, wilayah Jakarta (021) hanya akan dibagi empat atau 5 area sehingga orang Depok masih bisa menggunakan CDMA-nya di Tangerang atau Bekasi. Area base transceiver station (BTS), menurut keterangan ahli, tergantung dari berapa frekuensi yang digunakan, makin tinggi frekuensi, makin sempit cakupannya. Seluler yang menggunakan frekuensi 900 MHz mempunyai area cakupan BTS atau antena dengan radius 2 sampai 4 kilometer, tetapi frekuensi 1800 MHz atau 1900 MHz areanya cuma sekitar 800 meter atau radius 1.600 meter saja. Meskipun kemudian pemerintah menetapkan mobilitas CDMA terbatas di area cakupan BTS-nya, masih ada ancaman serius lainnya. Yaitu jika operator CDMA menggunakan frekuensi 470 MHz yang cakupannya bisa beradius 15 km sehingga masih sangat menarik bagi pelanggan. *** PT Telkom kini masih menganggap CDMA 2000-1X yang mereka implementasikan dan diberi nama TelkomFlexi itu sebagai masa depan bisnisnya. TelkomFlexi masih menempati urutan utama dan primadona PT Telkom dalam menyelesaikan masalah pembangunan fasilitas telekomunikasi (fastel) yang masih sangat rendah. Penetrasi rendah membuat kepadatan telepon juga terendah di kawasan ini karena hanya sekitar 3,6 persen, 7,6 juta satuan sambungan telepon (SST) untuk 210 juta penduduk Indonesia. Diharapkan dengan pembangunan 750.000 SST PT Telkom dan sekitar 100.000 SST dari PT Indosat tahun ini, kepadatan telepon akan menjadi empat persen. Sebagai perbandingan, Singapura punya 58 persen, sedangkan Malaysia sekitar 30 persen. Membangun jaringan nirkabel (wireless) CDMA jauh lebih murah daripada membangun dan menggelar jaringan kabel, 200 dollar AS berbanding 800 dollar AS per nomor. Karena murahnya, PT Telkom yang semula hanya menargetkan pembangunan 600.000 SST CDMA tahun ini merevisinya menjadi 750.000 SST dan mitra pembangun pun mendukung. Dalam membangun CDMA PT Telkom membagi risiko dengan mitranya karena modal dari mitra akan dibayar PT Telkom dengan besaran sesuai berapa jumlah SST yang sudah terjual (pay as you grow). Sementara CDMA fixed wireless ini akan membuat perilaku masyarakat jadi berubah terhadap alat komunikasi, yang sebenarnya sudah terjadi ketika seluler masuk. Telepon rumah PSTN kini tidak lagi sebagai alat komunikasi komunal yang digunakan bersama, melainkan menjadi alat komunikasi personal lewat TelkomFlexi. Kemudahan sebagai alat telepon personal ini yang mengurangi peran telepon tetap seperti yang ada di meja kita sekarang karena orang lebih suka yang personal, baik untuk memanggil atau dipanggil. Masalah yang akan dihadapi oleh PT Telkom kemudian adalah menurunnya rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan (average revenue per user/ARPU) telepon tetapnya. Padahal, di sisi lain, tidak ada peningkatan ARPU yang signifikan dengan munculnya CDMA karena sifat personal tadi. Teorinya, jika semula rekening satu telepon rumah Rp 400.000 sebulan yang digunakan oleh lima orang lalu masing-masing mendapat satu TelkomFlexi, tidak berarti tagihan menjadi lima kali Rp 400.000. ARPU telepon tetapnya akan turun, ARPU CDMA juga rendah karena sifat personal dan pengeluaran keluarga tak mungkin tiba-tiba melonjak. Tetapi jaringan kabel (wireline) belum mungkin ditinggalkan PT Telkom, sebab kenyataannya CDMA lebih efektif dan efisien jika digelar di daerah yang relatif rata atau perkotaan. Di pedesaan, khususnya yang berbukit dan gunung justru lebih baik digelar jaringan kabel, sebab frekuensi CDMA akan "termakan" hutan, pepohonan, dan perbukitan. Masalah lain, tak ada pilihan bagi operator seluler selain menurunkan tarif layanan mereka karena semenit bicara lokal di seluler sama dengan 11 menit bicara di CDMA fixed. Penurunan tarif berarti akan menurunkan pula ARPU, terutama jika operator tetap mengejar jumlah pelanggan sehingga ARPU rata-rata mereka berkisar antara Rp 60.000-Rp 70.000 saja. Saat ini dengan ARPU di bawah Rp 100.000 per bulan-menurun dari sekitar Rp 140.000 tahun lalu-operator seluler sudah mulai merasa kesulitan. Kenyataan ini akan makin membingungkan ketika pemerintah justru ingin PT Telkom menjual sebagian sahamnya di PT Telkomsel, saat performansi Telkomsel menurun karena CDMA. Bagaimana mungkin mendapat harga baik kalau terjadi kanibalisme induk terhadap anak perusahaannya itu? Pada saat sama, kanibalisme juga dilakukan PT Indosat lewat fixed wireless-nya terhadap seluler PT Satelindo. Persaingan memang memberi keuntungan pada masyarakat. Tetapi pemerintah juga harus tangkas dalam membuat regulasi agar keuntungan itu tidak kontra produktif ketika lalu operator seluler berjatuhan. |
| Terakhir Diperbaharui ( Senin, 16 Februari 2009 04:17 ) |





